Satuspirit - Kalau kamu kenal Rady Tias, satu hal yang pasti: dia nggak pernah kelihatan sedih. Di tongkrongan, dia paling rame. Di event, dia paling aktif. Di sosial media? Selalu ada alasan buat ketawa. Seolah hidupnya ringan. Seolah semuanya baik-baik saja.
Padahal… nggak sesederhana itu.
“Aku tuh rame di luar, tapi kosong di dalam”
Tim redaksi Satuspirit sempat ngobrol langsung bareng Rady, 24 tahun, lulusan SMA yang sekarang jalanin usaha sendiri sebagai fotografer freelance.
Job-nya nggak selalu besar, tapi cukup buat dia berdiri sendiri tanpa bergantung sama orang tua.
Begini obrolannya :
Redaksi:
“Rad, hidup kamu kelihatannya enak banget. Emang sesantai itu?”
Rady (senyum tipis):
“Kelihatan doang.”
Redaksi:
“Maksudnya?”
Rady:
“Aku tuh rame di luar, tapi kosong di dalam.”
Jomblo, dan Ngerasa Nggak Punya Tempat Pulang
Banyak yang heran.
Dengan wajah, pergaulan, dan kehidupan seperti Rady… harusnya dia gampang punya pasangan.
Tapi faktanya? Dia sendiri.
Rady:
“Aku bukan nggak mau punya pasangan… cuma kadang ngerasa belum pantas aja.”
Dia punya seseorang yang dia suka.
Sudah lama kenal. Sering ketemu di event. Sering ngobrol juga. Tapi berhenti di situ.
Redaksi:
“Kenapa nggak kamu ungkapin?”
Rady (ketawa kecil, tapi matanya beda):
“Saingan aku banyak… dan mereka lebih siap.”
Rady sadar, dia belum ada di titik yang dia inginkan.
Usahanya masih kecil. Penghasilannya belum stabil. Sementara di luar sana, banyak laki-laki yang sudah mapan, sudah terlihat “jadi”.
Rady:
“Aku aja belum yakin sama diriku sendiri… gimana orang lain mau yakin?”
Akhirnya dia memilih diam. Menyimpan rasa. Dan pura-pura nggak terjadi apa-apa.
Disikut dari Belakang
Di dunia kerja, Rady juga nggak selalu beruntung.
Sebagai fotografer freelance, dia sering dapat peluang.
Tapi juga sering kehilangan… dengan cara yang nggak enak.
Rady:
“Pernah udah deal, tinggal jalan… di detik terakhir diambil sama teman sendiri.”
Redaksi:
“Sering kejadian?”
Rady:
“Sering.”
Bukan cuma soal kehilangan job.
Tapi rasa kecewa karena yang melakukan itu… orang yang dia kenal dekat.
Rady adalah anak kedua dari empat bersaudara.
Kakaknya sudah menikah. Adiknya masih kuliah dan SMA.
Secara posisi, dia yang paling “berdiri”.
Tapi rumah… bukan selalu tempat yang menenangkan.
Rady:
“Di rumah itu… kadang ramai, tapi rasanya tetap sepi.”
Orang tuanya sibuk. Komunikasi nggak selalu berjalan.
Kadang ada ketegangan yang nggak diucapkan, tapi terasa.
Rady:
“Aku pulang bukan buat cerita. Cuma buat istirahat.”
Yang membuat Rady terlihat kuat adalah satu hal: dia terbiasa menyembunyikan semuanya. Tetap nongkrong. Tetap ketawa. Tetap jadi orang yang “menyenangkan”.
Redaksi:
“Capek nggak?”
Rady (diam, lalu jawab pelan):
“Capek. Tapi… aku nggak mau kelihatan lemah.”
Di balik semua itu, Rady punya keinginan yang sederhana:
bukan soal kaya, bukan soal terkenal, tapi soal… ditemani.
Rady:
“Aku cuma pengen ada satu orang yang benar-benar nanya kabarku… dan aku bisa jawab jujur.”
Lalu, Harus Gimana?
Kalau kamu ngerasa seperti Rady tenang, kamu nggak sendirian.
Banyak anak muda hari ini terlihat kuat,
padahal sedang berjuang diam-diam. Dan ini beberapa hal yang bisa kamu pegang:
1. Jujur Sama Diri Sendiri
Nggak apa-apa ngerasa sepi.
Nggak apa-apa ngerasa capek.
Itu bukan kelemahan.
Itu tanda kamu manusia.
2. Cari Satu Orang yang Tulus
Nggak perlu banyak teman.
Cukup satu yang benar-benar ngerti kamu tanpa kamu harus pura-pura kuat.
3. Berhenti Ngebandingin Diri
Setiap orang punya waktunya sendiri.
Kamu nggak harus “jadi” sekarang juga.
Yang penting… kamu tetap jalan.
4. Bangun Diri, Bukan Cuma Cari Pasangan
Pasangan itu bonus.
Versi terbaik dari diri kamu itu tujuan.
Kalau kamu terus berkembang,
yang tepat akan datang… tanpa dipaksakan.
5. Dekat Sama Tuhan
Ada fase di hidup di mana manusia nggak cukup. Di situ, kamu butuh tenang. Dan ketenangan itu… datang dari Tuhan.
Pesan Inspiratif
Rady masih berjuang. Masih sendiri. Masih sering ngerasa kalah. Tapi dia tetap jalan. Dan mungkin, itu yang paling penting.
Nggak harus langsung bahagia. Nggak harus langsung punya pasangan. Nggak harus langsung berhasil.
Tapi jangan berhenti. Karena suatu hari nanti,
semua yang kamu tahan, semua yang kamu perjuangkan akan menemukan tempatnya.
(*)

Social Media