![]() |
| Mang Ohang menyampaikan dakwah dengan gaya santai penuh humor dalam Safari Dakwah edisi Ngador P3SB Cililin. |
Ringkasan Artikel
Safari Dakwah edisi Halal Bihalal di Yayasan Pondok Pesantren Pembangunan Sumur Bandung, Cililin, menghadirkan konsep dakwah yang santai dan penuh tawa. Melalui kolaborasi bersama Rumah Dakwah, kegiatan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menggerakkan kepedulian sosial. Diawali dengan tausiyah da’i muda, dilanjutkan visualisasi kondisi Palestina dan bencana Sumatera serta Aceh, hingga penggalangan donasi yang berhasil mengumpulkan Rp4.070.000. Kegiatan ini menunjukkan bahwa dakwah bisa dikemas ringan, namun tetap berdampak dan menyentuh hati.
Satuspirit - Malam itu terasa beda. Selepas salat Isya, halaman dan masjid di Yayasan Pondok Pesantren Pembangunan Sumur Bandung (P3SB) Cililin, Kabupaten Bandung Barat, berubah jadi lautan manusia. Bukan cuma ramai, tapi juga hangat penuh energi, spirit, penuh senyum.
Para santri sudah rapi dari awal. Santri putra tampil dengan baju koko, sarung, dan kopiah. Sementara santri putri anggun dengan busana mayoritas serba hitam yang kompak dan tertata. Aura generasi islami benar-benar terasa kuat di malam itu.
Nggak cuma dari kalangan pesantren, masyarakat sekitar juga ikut memadati area masjid. Semua larut dalam satu suasana yang sama: santai, tapi penuh makna.
Di sisi lain, deretan UMKM ikut meramaikan suasana. Sekitar 20 pelaku usaha kecil berjajar menawarkan aneka makanan dan minuman. Senyum mereka nggak lepas, semangatnya terasa seolah malam itu bukan cuma tentang acara, tapi juga tentang keberkahan yang dibagi bersama.
Kamis malam, 9 April 2022, jadi momen spesial. Yayasan Pondok Pesantren Pembangunan Sumur Bandung (P3SB) berkolaborasi dengan Rumah Dakwah Kota Bandung menggelar Safari Dakwah edisi Halal Bihalal.
Konsepnya nggak biasa: ngador, ngabodor sambil ngadongeng. Santai, penuh tawa, tapi tetap sarat pesan. Sekaligus jadi ajang penggalangan dana untuk Palestina serta korban bencana di Sumatera dan Aceh.
Sebelum masuk ke momen penggalangan donasi, suasana lebih dulu dihangatkan oleh penampilan da’i muda asal Aceh, Sahrir Ramadani.
Dengan gaya penyampaian yang ringan tapi dalam, ia mengajak jamaah untuk lebih peka terhadap kondisi saudara-saudara sesama muslim, terutama yang sedang tertimpa musibah. Pesannya sederhana, tapi terasa dekat tentang kepedulian, tentang rasa memiliki, dan tentang pentingnya saling berbagi.
Suasana kemudian berubah jadi lebih hening, lebih khidmat.
Layar menampilkan visualisasi kondisi di Palestina serta bencana yang terjadi di Sumatera dan Aceh. Bukan sekadar gambar, tapi juga cerita nyata tentang perjuangan, kehilangan, dan harapan.
Ditampilkan juga berbagai aksi nyata yang sudah dilakukan oleh Rumah Dakwah. Mulai dari pembangunan fasilitas air bersih, pembagian makanan, hingga bantuan langsung ke wilayah terdampak.
Bahkan, ada testimoni langsung dari warga Palestina yang menyampaikan rasa terima kasih. Suasana pun makin terasa dalam bukan cuma melihat, tapi ikut merasakan.
Dari situ, rasa kebersamaan benar-benar terbangun.
Tanpa banyak aba-aba, ajakan untuk peduli pun disampaikan. Penggalangan donasi dipandu langsung oleh founder Rumah Dakwah, Dita RD, dengan penuh spirit dan keyakinan.
Dan lagi-lagi, momen yang terjadi benar-benar di luar dugaan.
Para santri yang mayoritas masih duduk di bangku SMP dan SMA ikut ambil bagian. Dengan kesadaran sendiri, mereka menyisihkan uang jajan. Ada yang sendiri, ada juga yang patungan bareng teman.
Nominalnya mungkin nggak besar. Mulai dari Rp20 ribu, Rp50 ribu, sampai seratus ribu.
Tapi justru di situlah maknanya terasa.
Karena yang diberikan bukan soal angka, tapi soal kepedulian.
Antusiasme yang sama juga datang dari para tamu undangan. Hadir unsur Forkopimcam Cililin, mulai dari Polsek, Koramil, kepala desa, Forum pondok pesantren, assatid hingga tokoh masyarakat dan MUI setempat. Semua larut dalam semangat berbagi yang sama.
Dan hasilnya pun bikin haru.
Dalam waktu 2 jam, donasi yang terkumpul mencapai Rp4.070.000.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Pembangunan Sumur Bandung, Kiai Ari Gumanti, ST., S.Sos., M.Pd., menyebut kegiatan ini bukan hanya soal acara, tapi tentang membangun rasa memiliki bersama.
“P3SB ini ingin kita jadikan milik masyarakat Cililin. Bukan milik siapa-siapa, tapi milik bersama. Silakan dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan yang membawa kebaikan,” ujarnya.
Menurutnya, selama ini pesantren terus berupaya membuka diri. Berbagai kegiatan sudah digelar, mulai dari peringatan 17 Agustus hingga agenda tingkat Kabupaten Bandung Barat.
“Harapannya sederhana, mudah-mudahan pesantren ini bisa terus berkembang dan jadi sumber kebaikan untuk masyarakat,” tambahnya.
Semangat kolaborasi itu juga dirasakan langsung oleh founder Rumah Dakwah, Dita RD. Ia menyebut Safari Dakwah seperti ini memang jadi program rutin yang terus digerakkan setiap bulan.
“Ini program bulanan kita. Kita keliling ke pesantren dan masjid, ngajak kolaborasi. Jadi bukan cuma di sini saja,” katanya.
Menurutnya, konsep dakwah yang dibawa memang sengaja dibuat beda. Lebih santai, lebih dekat, tapi tetap punya isi.
“Kalau dengan Mang Ohang ini konsepnya ngador ada bobodorannya, tapi tetap ada ilmu agamanya. Jadi orang nggak terasa digurui, tapi pesannya tetap sampai,” jelasnya.
Ia juga mengaku melihat perubahan besar dari sosok Mang Ohang yang kini lebih fokus berdakwah.
“Alhamdulillah, sekarang bukan cuma menghibur, tapi juga menyampaikan pesan. Dan itu terasa banget dampaknya ke masyarakat,” lanjutnya.
Sementara itu, da’i muda asal Aceh, Sahrir Ramadani, yang tampil di awal acara, membawa pesan sederhana tapi dalam tentang pentingnya saling peduli.
“Momentum Syawal ini jadi pengingat untuk kita saling tolong-menolong. Terutama untuk saudara kita di Palestina, Sumatera, dan Aceh,” ujarnya.
Ia juga berharap kegiatan seperti ini bukan sekadar seremonial, tapi benar-benar membawa dampak luas.
“Harapannya tentu silaturahmi terbangun, dan pesan yang kita sampaikan bisa sampai ke masyarakat,” katanya.
Di hadapan para santri, ia pun menitipkan pesan penting: tentang konsistensi.
“Istiqomah itu kunci. Niatnya sudah bagus, tinggal dijaga. Karena santri hari ini adalah pemimpin di masa depan,” pesannya.
(*)



Social Media