BLANTERORIONv101

Miris! Banyak Generasi Z Tak Hafal Pancasila dan UUD 1945, Apa Penyebabnya?

1 Juni 2026

 

Kumpulnya pelajar
Nilai-nilai Pancasila tidak hanya dihafalkan, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Foto: Ilustrasi.

Satuspirit - Di era digital seperti sekarang, informasi datang begitu cepat. Dalam hitungan detik, seseorang bisa mengetahui kabar dari berbagai penjuru dunia hanya melalui telepon genggam di tangannya. Teknologi memang membawa banyak manfaat. Namun di balik kemudahan itu, ada satu pertanyaan yang mulai mengusik banyak kalangan:

Apakah generasi muda Indonesia masih mengenal jati diri bangsanya sendiri?

Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Di berbagai kesempatan, masih ditemukan pelajar yang kesulitan menyebutkan lima sila Pancasila secara lengkap. Bahkan ada yang lupa urutan sila, belum hafal Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, atau belum memahami makna dasar yang terkandung di dalamnya.

Padahal, Pancasila bukan sekadar hafalan. Ia adalah fondasi bangsa Indonesia.

Memperingati Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni seharusnya menjadi momentum untuk kembali mengingat akar kebangsaan yang selama ini menjadi pemersatu Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Berbeda dengan generasi masa lalu.

Dahulu, suasana sekolah menjelang Hari Kemerdekaan atau Hari Kesaktian Pancasila begitu hidup. Banyak perlombaan membaca Pembukaan UUD 1945, lomba pidato kebangsaan, cerdas cermat Pancasila hingga berbagai kegiatan yang menumbuhkan rasa cinta tanah air.

Kini suasana itu mulai jarang terlihat.

Bukan berarti generasi sekarang lebih buruk. Hanya saja tantangannya berbeda.

Jika dulu anak-anak menghabiskan waktu bermain di lapangan atau membaca buku, kini sebagian besar waktu mereka tersita oleh layar gawai. Media sosial, video pendek, permainan daring, hingga berbagai hiburan digital sering kali lebih menarik dibandingkan membaca materi kebangsaan.

Fenomena itu juga dirasakan Muhtar Aladid (16), seorang pelajar SMA di Jawa Barat.

Ia mengaku pernah mengalami momen yang membuatnya malu ketika diminta guru untuk menghafalkan sila-sila Pancasila di depan kelas.

"Saya waktu itu disuruh maju ke depan. Guru meminta saya menyebutkan Pancasila dari sila pertama sampai sila kelima. Saya cuma bisa menyebutkan dua sila, sisanya lupa," ujarnya kepada redaksi.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga baginya.

Menurut Muhtar, salah satu penyebabnya adalah kebiasaan bermain gawai yang berlebihan.

"Kalau saya jujur, kadang lebih suka scroll media sosial daripada belajar. Mau menghafal atau membaca sesuatu sering malas. Pengennya lihat hiburan terus," katanya.

Pengakuan Muhtar mungkin mewakili sebagian generasi muda saat ini.

Bukan karena mereka tidak cinta Indonesia, tetapi karena perhatian mereka terpecah oleh begitu banyak informasi yang datang setiap saat.

Padahal, Indonesia saat ini membutuhkan generasi muda yang tidak hanya pintar menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki karakter kuat, semangat juang tinggi, dan memahami nilai-nilai kebangsaan.

Pancasila sebenarnya sangat relevan dengan kehidupan generasi sekarang.

Nilai gotong royong, toleransi, keadilan sosial, persatuan, dan penghormatan terhadap sesama justru menjadi kebutuhan penting di tengah derasnya arus informasi dan perbedaan pendapat di media sosial.

Karena itu, yang perlu dilakukan bukan sekadar menyuruh anak muda menghafal Pancasila.

Yang lebih penting adalah membuat mereka memahami makna dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu bagaimana caranya?

Tips Agar Generasi Muda Lebih Mencintai Pancasila

1. Batasi Penggunaan Gadget yang Tidak Produktif

Teknologi bukan musuh. Namun penggunaan yang berlebihan dapat mengurangi fokus belajar. Sisihkan waktu khusus setiap hari untuk membaca buku atau materi pendidikan.

2. Gunakan Media Sosial untuk Belajar

Ikuti akun edukasi sejarah, kebangsaan, dan tokoh inspiratif Indonesia. Jadikan media sosial bukan hanya tempat hiburan tetapi juga sumber pengetahuan.

3. Mulai Menghafal Sedikit demi Sedikit

Tidak perlu sekaligus. Mulailah dari menghafal lima sila Pancasila, kemudian lanjut ke Pembukaan UUD 1945 secara bertahap.

4. Aktif dalam Organisasi

Pramuka, OSIS, Karang Taruna, dan organisasi lainnya dapat melatih kepemimpinan, kerja sama, serta rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.

5. Perbanyak Membaca Kisah Pahlawan

Belajar perjuangan para pendiri bangsa akan membuat generasi muda lebih menghargai kemerdekaan yang dinikmati saat ini.

6. Terapkan Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

Menghormati orang tua, membantu teman, menjaga kebersihan lingkungan, dan menghargai perbedaan merupakan bentuk nyata pengamalan Pancasila.

7. Jadilah Generasi yang Berkarya

Mencintai Indonesia tidak harus selalu melalui pidato atau upacara. Prestasi, karya, inovasi, dan kontribusi positif juga merupakan bentuk cinta kepada bangsa.

Pada akhirnya, tantangan terbesar generasi muda saat ini bukanlah kurangnya teknologi, melainkan bagaimana menggunakan teknologi dengan bijak.

Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh karakter generasi penerusnya.

Indonesia membutuhkan generasi muda yang cerdas, berakhlak, berjiwa nasionalis, dan mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitas kebangsaannya.

Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju teknologinya, tetapi bangsa yang tetap mengenal akar dan jati dirinya.

Komentar