Satuspirit – Setelah menjuarai putaran pertama, LavAni kembali menunjukkan kelasnya dengan mengunci gelar juara putaran kedua usai menumbangkan Bhayangkara Presisi 3-1 (25-20, 25-15, 18-25, 25-22).
Bukan sekadar menang, hasil ini mengukuhkan LavAni sebagai satu-satunya tim dengan rekor sempurna di babak Final Four. Bonus Rp60 juta pun jadi pelengkap dominasi mereka.
Sejak set pertama, LavAni langsung menurunkan “Dream Team”. Dio Zulfikri mengatur tempo, sementara Boy Arnes, Taylor Sander, dan Georg Grozer menjadi mesin poin yang sulit dihentikan. Tekanan bertubi-tubi membuat Bhayangkara tak berkutik, hingga set pembuka ditutup 25-20.
Masuk set kedua, situasi makin berat bagi Bhayangkara. Serangan LavAni kian brutal. Spike keras Grozer dan Sander berulang kali menembus blok lawan. Set ini berubah jadi panggung dominasi LavAni menang telak 25-15.
Namun, Bhayangkara belum habis. Set ketiga jadi titik kebangkitan. Rendy Tamamilang dan Bardia Saadat mulai menemukan ritme, memanfaatkan celah di pertahanan LavAni. Hasilnya, Bhayangkara memperkecil ketertinggalan lewat kemenangan 25-18.
Set keempat menjadi klimaks. Duel berlangsung ketat, poin demi poin diperebutkan. Tapi di momen krusial, mental juara LavAni berbicara. Blok rapat Hendra Kurniawan dan penyelesaian dingin Boy Arnes memastikan kemenangan 25-22—sekaligus mengunci laga.
Rekor Sempurna, Tapi Masih Ada Celah
Meski tampil dominan, LavAni belum sepenuhnya puas. Asisten pelatih Erwin Rusni secara jujur mengakui masih ada pekerjaan rumah, terutama di sektor receive.
“Kami masih kedodoran saat menerima servis lawan. Harusnya bisa langsung dikonversi jadi poin,” tegasnya.
Tak hanya itu, kondisi cuaca panas di Semarang juga jadi tantangan tersendiri. Fisik pemain terkuras, membuat performa dinilai belum menyentuh 100 persen.
Bhayangkara Santai, Siapkan Balas Dendam
Di sisi lain, Bhayangkara Presisi memilih tidak panik. Pelatih Reidel Toiran justru melihat kekalahan ini sebagai bagian dari proses.
Ia menyebut performa timnya baru di kisaran 60 persen, dengan masalah utama di komunikasi dan koordinasi.
Sementara itu, Rendy Tamamilang menegaskan timnya tak gentar.
“Ini jadi bahan evaluasi penting. Kami harus kurangi kesalahan sendiri di final nanti,” ujarnya.
Dengan rekor tak terkalahkan, LavAni datang ke Grand Final dengan kepercayaan diri penuh. Tapi Bhayangkara jelas bukan lawan yang akan menyerah begitu saja.
Pertanyaannya sekarang: apakah dominasi LavAni akan berlanjut, atau justru Bhayangkara yang membalikkan keadaan di panggung puncak?
(*)

Social Media