BLANTERORIONv101

Sampah Jadi Ancaman Saguling, Pemkab KBB dan PLN Bergerak Lewat BEWARA 2026

7 Mei 2026

Kegiatan BEWARA 2026 “Bersama Warga Reksa Alam” di Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (7 April 2026), dihadiri Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail, Senior Manager PLN Indonesia Power Doni Bakar, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Ibrahim Aji, unsur pemerintah Kecamatan dan desa, komunitas lingkungan, pelajar, serta masyarakat dalam aksi peduli sampah dan penanaman pohon.

Satuspirit - Tumpukan sampah, eceng gondok yang terus meluas di Waduk Saguling, hingga ancaman longsor akibat lahan gundul menjadi perhatian serius berbagai pihak di Kabupaten Bandung Barat. Berangkat dari kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat bersama PLN Indonesia Power, Dinas Lingkungan Hidup, Forum Bank Sampah Jabar, komunitas lingkungan hingga pelajar turun langsung dalam kegiatan BEWARA 2026 “Bersama Warga Reksa Alam” di Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kamis (7 April 2026).

Kegiatan yang digelar dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional itu bukan sekadar seremoni. Mulai dari aksi bersih lingkungan, penanaman 50 pohon keras, edukasi pengolahan sampah, hingga pemberdayaan masyarakat binaan menjadi simbol kuat bahwa persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan sendiri, tetapi harus lewat kolaborasi nyata.

Suasana pun berlangsung penuh semangat. Pelajar SMP dan SMK, komunitas lingkungan, bank sampah, hingga warga tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan sejak pagi hari.

Selain aksi bersih lingkungan, kegiatan juga menampilkan berbagai produk binaan masyarakat dari PLN Indonesia Power seperti olahan eceng gondok, sabun, saung maggot, budidaya jangkrik, kopi, pupuk organik, hingga makanan olahan khas warga.

Wakil Bupati Bandung Barat, H. Asep Ismail, M.Si., mengatakan persoalan sampah dan lingkungan harus ditangani serius karena berdampak langsung terhadap masa depan daerah.

“Penanaman pohon ini sangat berdampak untuk lingkungan, salah satunya mencegah longsor dan banjir. Kita tahu Bandung Barat ini rawan longsor karena banyak lahan yang gundul akibat ulah manusia yang kurang bertanggung jawab,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa ke depan pemerintah tengah mendorong pengolahan sampah menjadi energi listrik melalui pengembangan di kawasan TPA Sarimukti.

“Insya Allah ke depan permasalahan sampah bisa lebih tertangani dan bermanfaat menjadi tenaga listrik untuk beberapa daerah,” katanya.

Menurut Asep, persoalan sampah di Bandung Barat dipengaruhi banyak faktor, mulai dari armada yang terbatas hingga persoalan teknis lainnya. Karena itu pihaknya terus berupaya mengajukan penambahan armada pengangkut sampah ke pemerintah provinsi.

Sementara itu, Senior Manager PLN Indonesia Power, Doni Bakar, menilai kegiatan BEWARA menjadi simbol penting untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan.

“Kalau budaya masyarakat bisa berubah, sampah dipilah dari rumah, yang organik diolah jadi maggot dan yang anorganik dimanfaatkan kembali, dampaknya akan sangat besar,” ungkapnya.

Ia menyebut pihaknya selama ini rutin melakukan pengangkutan eceng gondok dan sampah di Waduk Saguling karena keberadaannya dapat memicu sedimentasi yang berdampak terhadap kapasitas air waduk.

“Kalau eceng gondok terus bertambah, sedimentasi meningkat dan daya tampung waduk berkurang. Ini tentu berdampak pada pembangkit listrik,” jelasnya.


Doni mengatakan saat ini terdapat sekitar 94 hektare area eceng gondok di Saguling yang terus dipetakan dan dibersihkan secara bertahap bersama masyarakat sekitar.

Menurutnya, persoalan lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, tetapi harus menjadi gerakan bersama lintas sektor dan generasi muda.

“Makanya kita butuh kegiatan seperti ini agar masyarakat, terutama anak muda, lebih peduli terhadap lingkungannya,” tandasnya.

Hal ini diperkuat, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat, Ibrahim Aji, menegaskan bahwa gerakan peduli lingkungan tidak boleh berhenti hanya pada kegiatan simbolis semata. Menurutnya, yang paling penting adalah keberlanjutan dan perubahan pola pikir masyarakat dalam mengelola sampah.

“Kita berharap bukan cuma sekarang saja, tapi harus ada langkah berikutnya. Kalau tidak ada kelanjutannya, sampah akan tetap menumpuk lagi ke depannya,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya mendorong adanya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat dan pelajar agar kesadaran menjaga lingkungan bisa tumbuh sejak dini. Selain itu, DLH juga mendorong kolaborasi antara pemerintah desa, pengelola pasar, hingga masyarakat dalam pengelolaan sampah.

“Nanti ke depan ada edukasi warga, pelajar juga, termasuk kerja sama antara desa, pengelola pasar dan masyarakat supaya pengelolaan sampah lebih maksimal,” katanya.

Pernyataan tersebut memperkuat semangat kolaborasi dalam kegiatan BEWARA 2026, bahwa persoalan lingkungan tidak cukup diselesaikan lewat aksi sesaat, tetapi membutuhkan gerakan bersama yang konsisten dan berkelanjutan.

(*)

Komentar