BLANTERORIONv101

Sirene Darurat Pecah di Cihampelas, Simulasi Gempa Libatkan Warga dan Relawan

11 Mei 2026
Gempa simulasi cihampelas
Petugas gabungan mengevakuasi korban simulasi gempa bumi menuju ambulans saat kegiatan simulasi penanggulangan bencana akibat aktivitas Sesar Lembang di Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Senin (11 Mei 3026).

Satuspirit - Suara sirene yang meraung keras memecah suasana Aula Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Senin (11 Mei 2026), menandai dimulainya simulasi penanggulangan bencana gempa bumi akibat aktivitas Sesar Lembang. Dalam simulasi tersebut, peserta dari Destana desa, Tagana, relawan, hingga unsur masyarakat tampak berhamburan keluar ruangan sambil melindungi kepala dan mencari titik aman sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.

Simulasi yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah bersama unsur terkait itu juga memperagakan proses evakuasi korban dan penanganan darurat. Sedikitnya empat mobil ambulans dikerahkan untuk membawa korban simulasi menuju titik penanganan medis, sementara petugas melakukan pertolongan pertama di lokasi kejadian.

Camat Cihampelas Agus Rudiyanto, S.Sos, mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bentuk kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi yang sewaktu-waktu dapat terjadi tanpa bisa diprediksi.

“Gempa bumi itu tidak membunuh, tetapi reruntuhan bangunan yang membunuh. Karena gempa tidak bisa diprediksi kapan dan di mana terjadi, maka masyarakat harus tahu bagaimana cara menyelamatkan diri,” ujarnya.

Menurut Agus, langkah dasar penyelamatan saat gempa harus dipahami masyarakat, mulai dari berlindung di bawah meja atau tempat aman untuk melindungi kepala hingga segera menuju area terbuka setelah situasi memungkinkan.

Ia juga menegaskan pentingnya kesiapan diri sendiri sebelum mengandalkan bantuan petugas maupun relawan kebencanaan.

“Jangan hanya mengandalkan relawan atau petugas. Minimal kita tahu bagaimana menyelamatkan diri sendiri saat terjadi bencana. Pengetahuan ini juga harus ditularkan kepada keluarga dan masyarakat sekitar,” katanya.

Agus mengapresiasi keterlibatan pemerintah desa, Destana, Tagana, relawan, dan masyarakat yang bergotong royong menyukseskan kegiatan tersebut. Ia berharap simulasi kebencanaan serupa terus dilakukan agar masyarakat semakin siap menghadapi berbagai potensi bencana di wilayahnya.

“Bencana bisa terjadi di mana saja. Bukan berarti kita menantang bencana, tetapi kita harus siap dan memiliki kesiapsiagaan,” tandasnya.

Sementara itu, kepala Bidang Pencegahan dan kesiapsiagaan , Dedi Supriadi, SS.MM, menjelaskan bahwa hingga saat ini, pembentukan struktur dasar satuan tanggap bencana di kecamatan Cihampelas baru terealisasi di Desa Cipatik. Pihaknya menargetkan seluruh desa di wilayah Cihampelas segera memiliki satuan serupa, mengingat karakteristik wilayah yang didominasi perbukitan dan lereng pegunungan.

“Kami dari Pemda KBB melalui BPBD Kabupaten Bandung Barat berharap seluruh desa di Cihampelas ini nantinya memiliki struktur lengkap. Meski saat ini baru terbentuk di satu desa, kita tidak boleh berputus asa. Keberadaan relawan yang sudah terbentuk menjadi modal utama untuk berlatih dan mengantisipasi risiko. Di KBB potensi ancaman bencana sangat besar, apalagi kejadian longsor sudah sering tercatat terjadi,” ujar Dedi saat ditemui di lokasi simulasi

Dalam pelaksanaannya, simulasi ini melibatkan kolaborasi lintas unsur, mulai dari pemerintah daerah,  perwakilan dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, media massa, hingga warga setempat. 

Menurut Dedi, kerja sama ini menjadi kunci agar penanganan bencana nantinya dapat berjalan lebih terkoordinasi dan optimal.

“Sebaran risiko bahaya hampir mencakup seluruh desa di Cihampelas, seperti desa Situ wangi " tambahnya.

Salah satu tantangan besar yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah belum adanya skema relokasi bagi warga yang tinggal di zona bahaya. Menurut Dedi, pemindahan penduduk tidak dapat dilakukan secara serta merta, sehingga penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi prioritas utama.

Ia juga menegaskan semangat kebersamaan bagi seluruh relawan.

 “Tugas ini adalah panggilan jiwa. Relawan harus siap membantu di manapun bencana terjadi, jangan ada ego sektoral hanya bertugas di Cihampelas saja. Tanggung jawab kita mencakup seluruh Kabupaten Bandung Barat, bahkan seluruh Indonesia, karena penanggulangan bencana adalah tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Meskipun kegiatan ini berjalan lancar, terdapat sejumlah catatan kekurangan yang akan menjadi bahan evaluasi ke depannya. Saat ini, struktur tanggap bencana belum merata di seluruh desa, sehingga kesiapsiagaan masih bergantung pada tim pusat. Sebagian masyarakat juga belum memahami rute evakuasi dan belum menyiapkan perlengkapan darurat di rumah.

Selain itu, akses jalan menuju beberapa kawasan berisiko masih sempit dan sulit dilalui kendaraan besar, serta simulasi yang digelar baru berfokus pada skenario gempa bumi, belum mencakup kemungkinan bencana gabungan seperti gempa disertai longsor atau banjir.

Pemerintah daerah berkomitmen untuk menyempurnakan hal tersebut melalui sosialisasi berjenjang, pelatihan rutin, serta memperkuat kerja sama dengan pihak swasta agar kesiapsiagaan bencana di wilayah Cihampelas semakin matang dan andal dalam melindungi masyarakat.

(*)

 

 



Komentar