![]() |
| Dekos berpose santai sebelum memulai rekaman, dengan latar deretan angklung yang menjadi bagian dari nuansa budaya Sunda. |
Satuspirit – Masa pensiun bagi sebagian orang mungkin menjadi akhir dari rutinitas panjang. Namun bagi Dedi Kosipa atau yang akrab disapa Dekos, pensiun justru menjadi awal perjalanan baru yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Pria yang selama lebih dari 30 tahun mengabdikan diri sebagai guru olahraga di salah satu sekolah dasar negeri di Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat itu menemukan dunia baru setelah menetap di Garut. Dunia yang kemudian mengubah hari-harinya menjadi lebih berwarna: ayam pelung.
Kecintaan Dekos terhadap ayam pelung tidak lahir secara instan. Semua berawal dari pergaulan dan lingkungan tempat tinggal barunya yang mempertemukannya dengan para penghobi ayam pelung. Dari rasa penasaran, tumbuh ketertarikan. Dari ketertarikan, lahirlah kecintaan.
Tak lama kemudian, ia bergabung dengan komunitas Gatra (Garut Utara), sebuah komunitas pecinta ayam pelung yang memiliki lebih dari seratus anggota.
Sejak saat itu, berbagai aktivitas dijalaninya bersama sesama penghobi. Mulai dari perawatan ayam, latihan suara, hingga mengikuti berbagai kontes ayam pelung di sejumlah daerah.
"Bagi saya ayam pelung bukan hanya hobi. Dari sini saya mendapatkan banyak teman dan memperluas silaturahmi dengan sesama pecinta ayam pelung dari berbagai daerah," ujarnya.
![]() |
| Dekos bersama Marwan, aransemen lagu, saat pembuatan clip sederhana di studio Nata Saigel |
Selain dikenal sebagai penghobi ayam pelung, Dekos juga memiliki darah seni yang kuat. Kecintaannya terhadap seni Sunda mendorongnya untuk mengekspresikan pengalaman dan perasaannya melalui karya musik.
Dari situlah lahir lagu berjudul "Ayam Pelung", sebuah lagu yang ia ciptakan sendiri dengan aransemen musik oleh Marwan dan proses rekaman dilakukan di Nata Saigel, Kecamatan Cihampelas.
Lagu tersebut bukan sekadar lagu hiburan. Di dalamnya tersimpan berbagai pengalaman, suka duka, dan dinamika yang selama ini ia rasakan sebagai penghobi ayam pelung.
"Lagu ini menceritakan pengalaman pribadi saya dan teman-teman penghobi ayam pelung. Ada suka, ada duka, ada perjuangan, dan ada harapan juga," katanya.
Kritik untuk Kontes yang Lebih Jujur
Salah satu pesan yang cukup kuat dalam lagu tersebut adalah harapan agar dunia kontes ayam pelung semakin menjunjung tinggi kejujuran dan sportivitas.
Dekos mengaku pernah menyaksikan kejadian yang menurutnya kurang adil dalam sebuah perlombaan. Ada ayam yang kualitas suaranya dinilai lebih baik, namun justru tidak keluar sebagai pemenang.
Pengalaman itulah yang kemudian turut menginspirasi lirik dalam lagu ciptaannya.
"Harapan saya sederhana. Kalau memang ada perlombaan, penilaiannya harus objektif dan jujur. Jangan sampai ada peserta yang merasa dirugikan karena penilaian yang tidak fair," ungkapnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa lagu tersebut bukan bertujuan menyudutkan pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk masukan agar dunia ayam pelung semakin baik dan profesional.
Bagi Dekos, ayam pelung bukan hanya soal hobi atau hiburan. Ia melihat ada potensi ekonomi yang cukup besar di balik perkembangan komunitas ayam pelung.
Menurutnya, ayam pelung yang memiliki kualitas suara baik dan berprestasi dalam kontes dapat memiliki nilai jual yang tinggi.
Selain itu, berbagai kegiatan perlombaan juga mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
"Kalau ada lomba, banyak UMKM yang ikut bergerak. Pedagang ramai, peternak ayam pelung juga berkembang. Jadi manfaatnya bukan hanya untuk penghobi, tetapi juga untuk masyarakat sekitar," jelasnya.
Menjaga Warisan Budaya Lokal
Di tengah derasnya perkembangan zaman, Dekos berharap ayam pelung tetap menjadi bagian dari budaya lokal yang terus dijaga dan dicintai generasi muda.
Melalui lagu "Ayam Pelung", ia ingin memperkenalkan keindahan suara ayam pelung kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus mengajak para penghobi untuk terus menjaga persaudaraan dan sportivitas.
"Lagu ini saya persembahkan untuk seluruh pecinta ayam pelung. Mudah-mudahan semakin banyak yang mengenal, mencintai, dan ikut melestarikan ayam pelung sebagai salah satu kebanggaan budaya kita," pungkasnya.
Bagi Dekos, pensiun bukanlah akhir dari perjalanan. Dari dunia olahraga menuju dunia seni dan ayam pelung, ia membuktikan bahwa semangat berkarya tidak mengenal usia. Bahkan dari suara kokok ayam pelung, lahirlah sebuah karya yang menyuarakan kecintaan, persahabatan, dan harapan akan dunia yang lebih jujur.
Informasi olahraga Nasional, Jawa Barat dan Persib kunjungi : https://sportsjabar.com/
(*)


Social Media