Satuspirit – Pemerintah Desa Cipatik, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan stunting melalui kegiatan Rembuk Stunting yang digelar di Aula Desa Cipatik, Selasa (7 Juli 2026).
Kegiatan tahunan tersebut dihadiri para Ketua RW dari 10 RW, kader kesehatan, Puskesmas, Bidan Desa, Ketua BPD, serta berbagai unsur lintas sektor. Rembuk Stunting berlangsung penuh semangat kebersamaan sebagai bentuk komitmen bersama dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.
Kepala Desa Cipatik, Drs. H. Asep Agus, mengatakan penanganan stunting harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir. Menurutnya, berbagai program terus diupayakan agar angka stunting di Desa Cipatik dapat terus menurun setiap tahunnya sebagai bagian dari persiapan menyongsong Indonesia Emas 2045.
"Berbagai upaya terus dilakukan, mulai dari pemberian makanan tambahan (PMT), edukasi kepada masyarakat hingga pembangunan yang mendukung pola hidup sehat. Kami berharap angka stunting terus berkurang dari tahun ke tahun," ujarnya.
![]() |
| Kades Desa Cipatik bersama Ketua BPD, di sela sela acara Rembuk Stanting yang diikuti 10 RW. |
Ia menegaskan, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif keluarga, terutama orang tua.
"Kami sering mengingatkan agar makanan tambahan yang diberikan benar-benar dikonsumsi oleh anak yang membutuhkan, bukan justru dimakan anggota keluarga lainnya," katanya.
Asep Agus menjelaskan, Desa Cipatik pernah menjadi lokus stunting. Namun, seiring berbagai program yang dijalankan, kondisi tersebut mulai membaik. Meski demikian, stunting tidak bisa diselesaikan hanya dari sisi kesehatan.
"Faktor penyebab stunting sangat banyak, mulai dari kesehatan, sanitasi, lingkungan tempat tinggal hingga pola asuh keluarga. Karena itu, penanganannya harus melibatkan semua pihak, bukan hanya pemerintah desa ataupun tenaga kesehatan," jelasnya.
Ke depan, pihak desa bahkan berencana menggagas program anak asuh stunting apabila angka kasus belum menunjukkan penurunan yang signifikan, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih fokus terhadap keluarga yang membutuhkan pendampingan.
Sementara itu, Bidan Desa Cipatik, Endah Suci Danarti, Amd.Keb, mengungkapkan berdasarkan pendataan terbaru, jumlah kasus stunting di Desa Cipatik mengalami sedikit peningkatan.
"Sebelumnya tercatat 115 anak, kemudian pada pendataan bulan Juni menjadi 119 anak. Karena itu edukasi dan pendataan akan terus dilakukan secara berkelanjutan," ujarnya.
Menurut Endah, penyuluhan tidak hanya ditujukan kepada ibu, tetapi juga melibatkan kedua orang tua agar pola asuh dan pemenuhan gizi anak dapat dilakukan bersama.
![]() |
| Bidan desa berperan secara aktif dalam pencegahan angka stunting. |
"Kami ingin ayah dan ibu sama-sama memahami bagaimana memberikan pengasuhan yang baik serta memenuhi kebutuhan gizi anak," katanya.
Selain itu, upaya pencegahan telah dimulai sejak masa kehamilan melalui pemantauan ibu hamil, pemeriksaan kesehatan rutin, pendampingan selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), hingga pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil yang membutuhkan.
Ia menambahkan, faktor risiko seperti kehamilan usia terlalu muda, jarak kelahiran yang terlalu dekat, hingga kondisi ibu hamil berisiko tinggi juga menjadi perhatian dalam program pencegahan stunting di Desa Cipatik.
Melalui Rembuk Stunting ini, Pemerintah Desa Cipatik berharap mampu menurunkan prevalensi stunting secara terpadu melalui komitmen anggaran desa dan sinergi lintas sektor.
Di sisi lain, masyarakat, khususnya para orang tua, diharapkan semakin sadar akan pentingnya pola asuh yang baik, pemenuhan gizi seimbang pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), rutin memantau tumbuh kembang anak di Posyandu, serta memastikan ibu hamil memperoleh nutrisi yang cukup demi melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas.
Apa itu stunting?
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dalam waktu yang lama, terutama sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun. Anak yang mengalami stunting umumnya memiliki tinggi badan lebih pendek dibandingkan anak seusianya serta berisiko mengalami gangguan perkembangan otak, menurunnya kemampuan belajar, hingga produktivitas yang lebih rendah saat dewasa. Oleh karena itu, pencegahan stunting menjadi tanggung jawab bersama melalui perbaikan gizi, pola asuh, sanitasi, serta akses layanan kesehatan yang berkualitas.
(*)



Social Media