Satuspirit – Menjadi kepala sekolah di sekolah yang berada tepat di pinggir jalan raya bukan perkara mudah. Selain harus memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan kondusif, keselamatan siswa juga menjadi perhatian utama setiap hari.
Hal itu dirasakan langsung Kepala SDN Cipatik 1 Kecamatan Cihampelas Kabupaten Bandung Barat, Encep Suparman S.Pd. Sejak menjabat sebagai kepala sekolah pada 2023 lalu, Encep menghadapi berbagai tantangan yang tak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga keselamatan siswa hingga menyatukan pemahaman para orang tua murid.
"Sekolah kami berada dekat jalan raya, jadi suasananya kadang kurang kondusif karena suara kendaraan. Selain itu, risiko kecelakaan juga selalu ada, terutama saat jam masuk sekolah," ujar Encep saat diwawancarai.
Ia mengungkapkan, kepadatan kendaraan pada pagi hari terutama setiap Senin menjadi tantangan tersendiri. Bahkan, petugas penyeberangan jalan pun pernah mengalami insiden terserempet kendaraan karena pengendara tidak sabar saat arus lalu lintas padat.
Meski begitu, Encep terus berupaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi siswa. Menurutnya, kedisiplinan menjadi kunci utama agar anak-anak tetap tertib dan fokus dalam pembelajaran.
"Minimal anak-anak harus punya disiplin dan karakter yang kuat. Itu penting supaya mereka bisa mengikuti pembelajaran dengan baik meski kondisi sekolah dekat jalan raya," katanya.
Tak hanya soal kondisi lingkungan sekolah, tantangan lainnya datang dari beragam karakter orang tua murid. Mengingat siswa berasal dari berbagai wilayah dan perumahan, menyatukan pemahaman para orang tua tidak selalu mudah.
Salah satu aturan yang kerap menjadi perdebatan adalah larangan menunggu anak di lingkungan sekolah setelah masa awal masuk sekolah selesai.
Menurut Encep, aturan tersebut dibuat demi menciptakan suasana belajar yang lebih mandiri dan kondusif bagi siswa.
"Kadang ada orang tua yang merasa keberatan dan menganggap sekolah arogan karena tidak boleh menunggu anak. Padahal tujuannya agar anak belajar mandiri dan fokus di sekolah," ungkapnya.
Ia menjelaskan, keberadaan orang tua di area sekolah justru sering membuat anak tidak nyaman dan sulit beradaptasi dengan lingkungan belajar.
"Kalau anak terus ditemani orang tua, mereka jadi tidak terbiasa bergaul dengan teman-temannya. Padahal sekolah itu tempat anak belajar bersosialisasi dan mencari lingkungan baru," katanya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Encep tetap berupaya memberikan inspirasi kepada para guru untuk terus berkembang dalam metode pembelajaran. Ia mendorong guru agar aktif berinovasi demi meningkatkan prestasi siswa.
Baginya, kebahagiaan terbesar sebagai kepala sekolah adalah ketika anak didiknya mampu meraih prestasi, minimal di tingkat kecamatan.
"Kalau melihat anak-anak juara, guru semangat, itu menjadi kebanggaan tersendiri. Artinya kerja keras bersama ada hasilnya," tuturnya.
Dengan segala dinamika yang ada, Encep membuktikan bahwa menjadi kepala sekolah bukan hanya soal memimpin administrasi pendidikan, tetapi juga menjaga keselamatan, membangun karakter siswa, hingga menjalin komunikasi dengan orang tua demi terciptanya lingkungan belajar yang sehat dan inspiratif.
(*)


Social Media