Mulai dari sapi yang mendadak mengamuk ketika akan disembelih, kambing yang kabur, domba yang sulit ditenangkan, hingga kisah hewan kurban yang meneteskan air mata kepada pemiliknya. Semua itu seolah menjadi warna tersendiri dalam momen sakral Idul Adha.
Ada satu kisah yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu. Seekor kambing tampak memeluk pemiliknya sambil meneteskan air mata beberapa hari sebelum disembelih. Suasana pun mendadak haru. Sang pemilik terlihat berat melepaskannya karena kambing tersebut sudah lama dipelihara dan dianggap seperti keluarga sendiri.
Banyak netizen yang ikut tersentuh melihat kejadian tersebut. Tidak sedikit pula yang berkomentar bahwa hewan ternyata punya perasaan dan bisa merasakan sesuatu yang akan terjadi pada dirinya.
“Seolah dia tahu akan dikorbankan,” tulis salah satu komentar netizen.
Meskipun demikian, sang pemilik tetap menjalankan ibadah kurban dengan penuh keikhlasan. Sebab, kurban bukan hanya soal menyembelih hewan, tetapi juga bentuk ketakwaan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Namun memang, tingkah laku hewan kurban terkadang membuat suasana Idul Adha semakin penuh cerita. Ada sapi yang biasanya jinak mendadak menjadi liar ketika dibawa ke lokasi penyembelihan. Ada juga kambing yang tiba-tiba kabur dan membuat warga satu kampung sibuk mengejarnya.
Bahkan dalam beberapa kejadian, ada sapi yang lepas dari tali lalu berlari ke jalan raya hingga membuat warga panik. Meski sering membuat heboh, kejadian seperti itu biasanya justru menjadi cerita yang terus dikenang masyarakat setiap Idul Adha tiba.
Di balik itu semua, masyarakat sering kali menganggap hewan-hewan tersebut seolah memahami bahwa hidupnya akan segera berakhir.
Kalau dibawa sedikit bercanda, mungkin di benak si kambing atau sapi itu ada pikiran, “Aduh, saya belum siap, masih ingin bersama pasangan saya,” atau “Saya masih ingin bermain dengan anak-anak saya.”
Tentu itu hanya candaan semata. Namun candaan tersebut justru membuat suasana Idul Adha terasa hangat dan penuh makna kemanusiaan.
Sebab pada kenyataannya, banyak pemilik hewan kurban yang memang punya ikatan emosional dengan hewan peliharaannya. Terutama mereka yang memelihara sejak kecil.
Salah satu kisah haru datang dari seorang ayah di Jawa Barat. Ia bercerita bahwa anaknya pernah menangis keras ketika kambing peliharaan keluarga hendak dijadikan hewan kurban.
“Anak saya itu dari kecil sudah dekat sama kambingnya. Dari umur empat tahunan dirawat, dikasih makan, diajak main. Pas mau dikorbankan, anak saya nangis enggak mau,” kata Sukandar, sambil tersenyum mengenang kejadian beberapa tahun lalu.
Menurutnya, waktu itu anaknya belum memahami makna kurban. Sang anak hanya tahu bahwa kambing kesayangannya akan disembelih dan tidak akan kembali lagi.
Namun seiring waktu, ketika sang anak mulai besar dan memahami arti Idul Adha, akhirnya ia belajar ikhlas.
“Tahun berikutnya anak saya sudah lebih ngerti. Walaupun sedih, tapi dia akhirnya ikhlas,” ujarnya.
Memang, Idul Adha bukan hanya mengajarkan tentang berbagi daging kurban. Lebih dari itu, Idul Adha mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, dan ketakwaan.
Sejarah Idul Adha sendiri berasal dari kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam yang mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih putranya tercinta, Nabi Ismail Alaihissalam.
Perintah itu tentu bukan hal mudah. Nabi Ibrahim diuji dengan sesuatu yang paling dicintainya. Namun karena ketaatan dan keimanannya kepada Allah, Nabi Ibrahim tetap menjalankan perintah tersebut dengan penuh kepasrahan.
Begitu pula Nabi Ismail yang dengan ikhlas menerima keputusan tersebut sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.
Namun ketika proses penyembelihan hendak dilakukan, Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba sebagai bentuk kasih sayang dan bukti bahwa Nabi Ibrahim telah lulus dari ujian keimanan.
Dari situlah lahir ibadah kurban yang hingga kini terus dijalankan umat Islam di seluruh dunia setiap Idul Adha.
Karena itu, di balik tangisan hewan kurban atau harunya perpisahan dengan hewan peliharaan, sebenarnya ada pesan besar tentang keikhlasan.
Bahwa hidup bukan hanya soal memiliki dan mempertahankan sesuatu yang dicintai, tetapi juga belajar melepas demi menjalankan perintah Allah.
Idul Adha juga menjadi momentum mempererat kebersamaan dan kepedulian sosial. Daging kurban dibagikan kepada masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan. Suasana kampung pun biasanya terasa lebih hidup dan penuh kebersamaan.
Ada warga yang membantu memotong daging, ada yang memasak gulai, sate, atau tongseng bersama keluarga. Anak-anak berlarian melihat sapi dan kambing, sementara suara takbir masih menggema di berbagai sudut kampung.
Itulah yang membuat Idul Adha selalu punya cerita.
Kadang ada cerita lucu tentang sapi kabur. Kadang ada kisah haru tentang kambing kesayangan. Ada juga cerita tentang warga yang baru pertama kali bisa berkurban setelah bertahun-tahun menabung.
Semua menjadi bagian dari kenangan yang sulit dilupakan.
Terlepas dari berbagai tingkah unik hewan kurban, Idul Adha tetaplah momentum sakral yang penuh hikmah. Momentum untuk belajar ikhlas, berbagi, bersyukur, dan meningkatkan keimanan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Karena pada akhirnya, yang paling penting dari kurban bukan hanya hewan yang disembelih, melainkan ketulusan hati dan ketakwaan orang yang menjalankannya.
(*)

.jpg)
Social Media